Senin, 03 Februari 2020

Hemat Beeebz

Pesta pernikahan sekali seumur hidup oleh karena itu,  tak sedikit pasangan yang tak segan untuk mengerahkan seluruh yang dimiliki bahkan tak jarang berhutang untuk membiyai pesta perniakahannya. Sebelum menemukan pasangan, saya bertekad untuk membiayai pesta pernikahan sendiri tanpa merepotkan orang tua, tanpa berhutang. Kalau hanya sanggup dengan tumpengan ya yumpengan. Sebisanya saja hajatannya, tidak memaksakan. Ketika bertemu dengan calon suami, kami memiliki prinsip yang sama, bahwa kehidupan setelah pernikahan jauh lebih penting daripada satu hari berpesta. Sehingga kami berupaya menyelenggarakan pesta sesederhana mungkin, sesuai kemampuan dan  masih menyisakan tabungan di rekening.

Ternyata benar saja, satu bulan setelah pernikahan, banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang tak terduga. Apalagi kami baru pindah ke rumah kontrakan, sehingga memerlukan barang ini-itu, meskipun sebagian besar barang-barang yang kami perlukan sudah kami dapatkan dari kado teman-teman dan saudara juga dari orang tua. Tapi tetap saja, pengeluaran tak terbendung sehingga defisit bulan pertama setelah pernikahan mencapai  kurang lebih satu setengah bulan gaji kami berdua. Terbayang jika saja kami tidak memiliki tabungan. Untungnya kami masih mempunyai dana cadangan sekitar lima kali dari gaji kami berdua. Kami, berupaya untuk saling terbuka dalam mengelola keuangan, baik pengeluaran maupun pendapatan. Sehingga lebih mudah bagi kami untuk mengevaluasi pos-pos mana yang bisa disiasati agar defisit tidak semakin membengkak di bulan-bulan yang akan datang. Meskipun masih defisit, sempet-sempetnya saya berinvestasi _ _"  awalnya saya tidak sadar akan deficit sebesar itu, jadi untuk bulan ini, memulihkan kesehatan cash flow dulu sembari mengumpulkan kembali dana darurat yang telah terpakai.

Ada uang aja, pusing banget rasanya buat mengelola keuangan rumah tangga, kebayang kalau uang tak ada ditambah harus bayar cicilan biaya pesta pernikahan _ _". Saya hanya dipusingkan dengan proses adaptasi dengan pasangan dalam mengelola keuangan dimana dia lebih cermat dalam membelanjakan uangnya, jadi saya harus belajar menahan diri untuk tidak membeli berdasarkan keinginan hanya membeli hal-hal yang dibutuhkan juga disiplin dalam mencatat berbagai pengeluaran agar lebih mudah mengevaluasinya. 

Saya bersyukur, dengan jalan di permulaan yang dipilih, meski sedikit penyesalan, harusnya pesta pernikahan saya bisa lebih sederhana lagi. Sehingga kami punya bekal yang lebih untuk mengarungi perjalanan. Tapi, yang berlalu ya sudahlah.. kedepannya semoga factor ekonomi, menjadikan kami saling bersyukur dan bersabar bukan menjadi pemicu perselisihan rumah tangga.

Gunung sindur, setelah belanja di pasar malam demi penghematan

~W~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harihari Nashira 13 Januari 2026

Karena kebodohan Ibu mensetting account emailnya dibawah family, jadi blognya Nashira tidak bisa dibuka, sampai entah. jadi untuk simpen-sim...