Sabtu, 22 Februari 2020

kado alat baking

Ada yang berbaik hati nitipin berbagai macam pekakas buat bikin kue dari Jerman yang dititip ke yang pulang ke Indonesia.
Baiknya Mba Mira, guru memasak di Jerman yang dengan sukarela membuka kelas masak buat para student.
Semoga bermanfaat kadonya.
#kode banget buat meneruskan hobi baking di Indo

Yang udah jarang banget memasak, apalagi baking
~W~

Selasa, 18 Februari 2020

cantikna Iwa

Iwaaaaaaaa.... 
Bieu teteh teu sengaja ngadangu laguna cantik, tiap ngadangu lagu ieu, langsung inget ka Iwa...
Iwaa, 
Teteh sono pisan
Hampura pisan wa, teteh loba janji ka Iwa tapi teu kalaksana... hampura oge sok kurang sabar ka Iwa., hanpura teteh teu aya pas iwa nuju teu damang jeung ngantunken. 
Teteh ayeuna tos nikah. Pun raka sabar pisaaan... pasti ka Iwa oge bakalan nyaah. 
.......
.......
Iwa, mun teteh nyusul Iwa tong bendu nya. 

Gunung sindur~ngantosan si pun raka mulih
~W~

Minggu, 16 Februari 2020

Minggu yang ditunggu

Nemenin suami dan kakak ipar ke LBH Jakarta di hari minggu terderngar membosankan bukan. Aslinya seru, cuman nganter ke gerbang, jalan bentar nyari pokemon abis itu ngadem di Metropole Cikini sambal pesen pempek, es campur, terus jajan kue di Hello Sunday.



Bahagia karena banyak menemukan dan memakan makanan enak. Sekaligus menimbun makanan enak buat di Gunung. Beneran, lain kali harus nimbun makanan enak lagiiiii….

Makasih ya kamu, yang selalu nemenin makan makanan enak, meski aku tau kamu lebih suka makan di rumah kan..kan...kaaaaannnn

Yang bahagia di hari minggu,
-W-




Minggu, 09 Februari 2020

Berdua di hari minggu

Minggu yang tak sibuk buat kami, hanya menghabiskan waktu berdua. 
Sambil sesekali kala matahari sudah bersinar terik, pergi keluar hanya untuk ke ATM mengambil uang karena kulkas akan datang. Akhirnyaaa... 
Nyari-nyari merek apa... belinya apaaa... alhamdulillah, apapun itu disyukuri :)
Kemudian, pergi beli makanan tak jauh dari rumah kontrakan. Udah bawa kotak makan dari rumah biar ga dibungkus plastik. Karena mesti ke pasar beli sayuran jadi ditinggal kotak makannya.
Pas nyampe di rumah, laaah kenapa satu jenis makanan dibungkus plastik kemudian dimasukin ke tempat makan, satunya lagi sesuai pesanan. Hahaaa, tambah cerita susahnya #zerowaste di Indonesia


ketika iklan sesuai dengan aslinya


Bahagiaaa itu tiap ketemu makanan enak. Kata kamu mirip sama yang di Jepang, semoga bisa nyicip langsung di negara Jepang sama kamu ya 🤗. Kemudian bahagia berlipat-lipat. 

Sehabis kekenyangan,
~w~

Kamis, 06 Februari 2020

Kali ketiga

Masih ingat, kali pertama bikin bubur kacang ijo itu di Stuttgart ya karena kamu. Ga sengaja main-main ke bulk store kemudian random aja beli kacang ijo. Padahal sebelumnya kepikiran aja engga pernah bikin bubur kacang ijo sendiri. 

Kali kedua, di Bandung dan lamaaaa bangeet bikinnya, kemungkinan sih kurang lama direndam alhasil belum sepenuhnya matang sudah disajikan.

Ini, kali ketiganya... cukup berhasil dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya. Kacang hijaunya direndam semalaman. Itu juga karena kondisinya menghawatirkan kalau ga segera dimasak. Jadi pagi-pagi sebelum berangkat kerja udah heboh. Dan kamu, bantu aku bikinin ini 😚. Tau ga, aku ngerasa disayang banget saat kamu bantu aku iniitu...makanya sesekali aku minta kamu masakin buat aku❤ atau seringkali minta bantu iniitu sebagai tanda sayang bukan hanya ucap sayang. 

Gunung sindur, menanti ~S~pulang setelah menyiapkan makan malam,

~W~


Rabu, 05 Februari 2020

Telur saus tiram

Mungkin, nanti akan kangen dengan menu ini, kemungkinan akan menjadi menu andalan karena berbahan dasar telur.
Resep didapat dari cookpad (duh lupa siapa yang bikin).

Pertama-tama bikin telur ceplok sebagaimana biasanya.
Lalu, setengah bawang bombay, 1 siung bawang putih, 3 siung bawang merah, satu cabe merah dicincang dan ditumis sampai harum. Kemudian masukkan 2 sdm saus tiram plus 1 sdm kecap manis dan asin plus air secukupnya. Tambahkan gula dan garam juga sedikit merica. Tunggu sampai air meresap ke telurnya untuk kemudian siap dihidangkan.

Gunung Sindur, setelah menyiapkan makan malam -jangan bilang aku ga pernah masak buat kamu yaa-
~W~

Senin, 03 Februari 2020

Hemat Beeebz

Pesta pernikahan sekali seumur hidup oleh karena itu,  tak sedikit pasangan yang tak segan untuk mengerahkan seluruh yang dimiliki bahkan tak jarang berhutang untuk membiyai pesta perniakahannya. Sebelum menemukan pasangan, saya bertekad untuk membiayai pesta pernikahan sendiri tanpa merepotkan orang tua, tanpa berhutang. Kalau hanya sanggup dengan tumpengan ya yumpengan. Sebisanya saja hajatannya, tidak memaksakan. Ketika bertemu dengan calon suami, kami memiliki prinsip yang sama, bahwa kehidupan setelah pernikahan jauh lebih penting daripada satu hari berpesta. Sehingga kami berupaya menyelenggarakan pesta sesederhana mungkin, sesuai kemampuan dan  masih menyisakan tabungan di rekening.

Ternyata benar saja, satu bulan setelah pernikahan, banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang tak terduga. Apalagi kami baru pindah ke rumah kontrakan, sehingga memerlukan barang ini-itu, meskipun sebagian besar barang-barang yang kami perlukan sudah kami dapatkan dari kado teman-teman dan saudara juga dari orang tua. Tapi tetap saja, pengeluaran tak terbendung sehingga defisit bulan pertama setelah pernikahan mencapai  kurang lebih satu setengah bulan gaji kami berdua. Terbayang jika saja kami tidak memiliki tabungan. Untungnya kami masih mempunyai dana cadangan sekitar lima kali dari gaji kami berdua. Kami, berupaya untuk saling terbuka dalam mengelola keuangan, baik pengeluaran maupun pendapatan. Sehingga lebih mudah bagi kami untuk mengevaluasi pos-pos mana yang bisa disiasati agar defisit tidak semakin membengkak di bulan-bulan yang akan datang. Meskipun masih defisit, sempet-sempetnya saya berinvestasi _ _"  awalnya saya tidak sadar akan deficit sebesar itu, jadi untuk bulan ini, memulihkan kesehatan cash flow dulu sembari mengumpulkan kembali dana darurat yang telah terpakai.

Ada uang aja, pusing banget rasanya buat mengelola keuangan rumah tangga, kebayang kalau uang tak ada ditambah harus bayar cicilan biaya pesta pernikahan _ _". Saya hanya dipusingkan dengan proses adaptasi dengan pasangan dalam mengelola keuangan dimana dia lebih cermat dalam membelanjakan uangnya, jadi saya harus belajar menahan diri untuk tidak membeli berdasarkan keinginan hanya membeli hal-hal yang dibutuhkan juga disiplin dalam mencatat berbagai pengeluaran agar lebih mudah mengevaluasinya. 

Saya bersyukur, dengan jalan di permulaan yang dipilih, meski sedikit penyesalan, harusnya pesta pernikahan saya bisa lebih sederhana lagi. Sehingga kami punya bekal yang lebih untuk mengarungi perjalanan. Tapi, yang berlalu ya sudahlah.. kedepannya semoga factor ekonomi, menjadikan kami saling bersyukur dan bersabar bukan menjadi pemicu perselisihan rumah tangga.

Gunung sindur, setelah belanja di pasar malam demi penghematan

~W~

Harihari Nashira 13 Januari 2026

Karena kebodohan Ibu mensetting account emailnya dibawah family, jadi blognya Nashira tidak bisa dibuka, sampai entah. jadi untuk simpen-sim...