Tak seperti tahun lalu, meski tak turut merayakan di jalan, saya menyusun berbagai resolusi yang sebagai besar disalin dari resolusi tahun-tahun sebelumnya. Tidak kali ini. Status sebagai mahasiswa juga status sebagai lajang telah berubah. #2019GantiStatus tercapai. #2020...(titiktiktik ntah apa) tak lagi resolusiku, tapi resolusi kami berdua. Tapi nyatanya tidak. Tak ada pembicaraan rencana-rencana malam itu. Kami hanya tahu: tahun baru kali ini akan banyak hal-hal yang baru buat kita berdua.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tanpa agenda perayaan. Kami bersiap untuk menyambut awal tahun baru dengan rumah baru-lebih tepatnya sebuah rumah kontrakan di antah berantah nun jauh disana; jauh dari hiruk pikuk pusat kota.
Tak lama setelah peralihan tahun baru terdengar tangisan bayi, suara anak-anak dan ibu-ibu yang berbisik~entah menenangkan tangisan atau saling menghapus kegelisan masing-masing. Mereka ternyata mengungsi di rumah mertua akibat hujan yang tak henti telah menenggelamkan beberapa rumah di pinggir kali. Air kali menguap. Pagi-pagi kami sudah sibuk memasak untuk para pengungsi, siangnya mencari bahan makanan untuk dimasak malam hari. Rencana pindahan terpaksa ditangguhkan karena posisi rumah sudah terkepung oleh banjir. Perlahan air tak tertahankan lagi masuk ke rumah, meski upaya membuat tanggul di depan rumah untuk mencegah air masuk telah dilakukan. Ternyata air masuk melalui belakang dan samping. Pengungsi yang ada di rumah mencari tempat pengungsian lain. Dan kamipun mengungsi ke tempat yang aman dengan hanya membawa barang2 seperlunya dan hanya dokumen2 penting yang diamankan.
Tak ada rencana sama sekali menghabiskan hari pertama tahun baru dengan menjadi korban banjir. Tak ada yang berharap, awal yang baru dengan musibah. Tapi tak ada gunanya berkeluh: hadapi saja. Semua akan berlalu. Lekas surut menjadi harapan semua korban yang terdampak banjir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar